Senin, 24 Juli 2023

Kisah Ashabul Qaryah, Kaum yang Dibinasakan karena Enggan Beriman


Tsalats Ghulam Khabbussila - detikHikmah
Kamis, 20 Jul 2023 05:00 WIB
Ilustrasi Ashabul Qaryah, tentang kaum yang enggan beriman kepada Allah SWT dan utusan-Nya. Foto: Getty Images/iStockphoto/EP-stock
Jakarta - Kisah Ashabul Qaryah merupakan satu dari sekian banyak kisah yang diabadikan dalam Al-Qur'an. Kisah tentang kaum yang enggan beriman ini termaktub dalam surah Yasin.
Dikutip dari buku 13 Kaum yang Binasa tulisan Sahrulazmi Sidek, dijelaskan bahwa Ashabul Qaryah mengacu pada penduduk sebuah kampung. Secara harfiah, kata "qaryah" berarti kampung. Namun, dalam konteks Al-Qur'an, istilah "kampung" sering kali merujuk pada sebuah kota atau perkotaan, dan dapat pula diterjemahkan sebagai sebuah negara.

Baca juga:
Kisah Anjing Ashabul Kahfi, Jaga Tuannya di Depan Gua Selama 309 Tahun
Siapa Ashabul Qaryah?
Menurut para ahli tafsir, Ashabul Qaryah mengacu pada penduduk Anthakiyah. Ini merupakan pandangan yang dikenal dan disampaikan oleh banyak ulama salaf dan khalaf, yang mengidentifikasi negeri yang dimaksud sebagai Anthakiyah.

ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menyebut bahwa penduduk suatu negeri dalam kisah Ashabul Qaryah ini bukanlah negeri Anthakiyah. Syaikh Muhammad Al-Utsaimin juga menyebut bahwa daerah Anthakiyah tidak pernah dihancurkan dan penduduknya tidak kena azab. Wallahu a'lam.

Kisah Ashabul Qaryah ini diceritakan dalam surah Yasin ayat 13-19. Allah SWT berfirman,


وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلًا اَصْحٰبَ الْقَرْيَةِۘ اِذْ جَاۤءَهَا الْمُرْسَلُوْنَۚ ١٣

Artinya: Buatlah suatu perumpamaan bagi mereka (kaum kafir Makkah), yaitu penduduk suatu negeri, ketika para utusan datang kepada mereka, (QS Yasin: 13)

اِذْ اَرْسَلْنَآ اِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوْهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوْٓا اِنَّآ اِلَيْكُمْ مُّرْسَلُوْنَ ١٤

Artinya: (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya. Kemudian Kami menguatkan dengan (utusan) yang ketiga. Maka, ketiga (utusan itu) berkata, "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu." (QS Yasin: 14)

قَالُوْا مَآ اَنْتُمْ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَاۙ وَمَآ اَنْزَلَ الرَّحْمٰنُ مِنْ شَيْءٍۙ اِنْ اَنْتُمْ اِلَّا تَكْذِبُوْنَ ١٥

Artinya: Mereka (penduduk negeri) menjawab, "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami. (Allah) Yang Maha Pengasih tidak (pernah) menurunkan sesuatu apa pun. Kamu hanyalah berdusta." (QS Yasin: 15)

قَالُوْا رَبُّنَا يَعْلَمُ اِنَّآ اِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُوْنَ ١٦

Artinya: Mereka (para rasul) berkata, "Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami benar-benar para utusan(-Nya) kepadamu. (QS Yasin: 16)

وَمَا عَلَيْنَآ اِلَّا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ ١٧

Artinya: Adapun kewajiban kami hanyalah menyampaikan (perintah Allah) yang jelas." (QS Yasin: 17)

قَالُوْٓا اِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْۚ لَىِٕنْ لَّمْ تَنْتَهُوْا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِّنَّا عَذَابٌ اَلِيْمٌ ١٨

Artinya: Mereka (penduduk negeri) menjawab, "Sesungguhnya kami bernasib malang karenamu. Sungguh, jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami merajam kamu dan kamu pasti akan merasakan siksaan yang pedih dari kami." (QS Yasin: 18)

قَالُوْا طَاۤىِٕرُكُمْ مَّعَكُمْۗ اَىِٕنْ ذُكِّرْتُمْۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَ ١٩

Artinya: Mereka (para rasul) berkata, "Kemalangan kamu itu (akibat perbuatan) kamu sendiri. Apakah karena kamu diberi peringatan, (lalu kamu menjadi malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas." (QS Yasin: 19)

Lebih lanjut, dijelaskan dalam buku yang sama tulisan Sahrulazmi Sidek, bahwa Allah SWT mengutus tiga rasul kepada Ashabul Qaryah, namun mereka enggan beriman.

Beberapa tindakan kejam yang mereka lakukan antara lain:

1. Mereka mengingkari rasul-rasul yang diutus dengan alasan bahwa rasul-rasul juga manusia seperti mereka.

2. Mereka sangat tidak senang dengan kehadiran ketiga rasul tersebut. Bahkan mereka melampaui batas dengan mengancam untuk menyakiti dan melukai para rasul. Mereka melampaui batas karena enggan menerima kebenaran dan sebenarnya tidak menginginkan kebenaran itu, sebagaimana ditafsirkan oleh Ibnu Katsir.

3. Mereka membunuh seorang lelaki yang beriman dan mengajak mereka kembali kepada Allah SWT.

Diceritakan dalam buku Situs-situs dalam Al Quran karya Syahruddin El-Fikri, akibat dari perbuatan kaum yang mendustakan utusan tersebut, akhirnya Allah SWT menyiksa dan memusnahkannya

Baca artikel detikhikmah, "Kisah Ashabul Qaryah, Kaum yang Dibinasakan karena Enggan Beriman" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/kisah/d-6829491/kisah-ashabul-qaryah-kaum-yang-dibinasakan-karena-enggan-beriman.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Selasa, 27 Juni 2023

CERITA  MOTIVASI: ORANG CERDAS

 


 بِسْـــــــــــــــــــــمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم


Suatu Hari Seorang musafir lewat di suatu kampung, ia melihat penduduk kampung lagi berkumpul ramai sekali.


Mereka sepertinya lagi mengadakan musyawarah besar.


Setelah mencari tahu, ternyata penduduk kampung itu lagi membicarakan siapa yang Bersedia mau menjadi ketua kampung.


Ia menjadi heran, kenapa orang-orang ini justru mencari siapa yang mau menjadi pemimpin, karena menurut kebiasaan, orang malah rebutan untuk jadi pemimpin.


Rupanya ada suatu tradisi aneh di kampung itu. Setiap seorang pemimpin Yang Telah selesai menjalankan tugas, ia akan dibuang ke suatu tempat yang sangat berbahaya.


Di padang pasir yang dipenuhi binatang buas dan berbisa.

Setiap orang yang masuk ke sana mustahil bisa keluar lagi dengan selamat.


Setelah berpikir sejenak ia menawarkan diri untuk jadi pemimpin di kampung itu.


Tentu saja penduduk kampung menjadi heran sekaligus senang. Dengan penuh yakin ia menanda tangani perjanjian untuk menjadi pemimpin dan siap dibuang setelah 10 tahun menjalankan tugas.


Namun musafir ini ternyata seorang yang sangat cerdas.


Pantas sekali ia berani menawarkan diri jadi pemimpin negeri itu.


Di tahun pertama dan kedua ia mengumpulkan dana yang sangat besar.


Pada tahun ketiga,

ia menugaskan orang untuk membuat jalan ke padang pasir tempat yang akan dijadikan tempat pembuangannya.


Tahun keempat ,

ia membersihkan tempat itu dari binatang buas dan berbisa.


Tahun kelima,

ia memerintahkan orang untuk mengalirkan air dan menanaminya dengan berbagai macam tumbuh-tumbuhan.


Tahun keenam sampai kedelapan,

ia menyulap daerah itu menjadi kota yang sangat megah dan membuat istana yang indah untuk tempat ia ketika dibuang nanti.


Akhirnya pada tahun kesembilan.ia justru merindukan jabatannya segera berakhir, karena ia tidak sabaran lagi untuk menempati rumah masa depannya.


*Itulah gambaran dunia dan akhirat bagi orang yang sadar.*


Ada orang yang merasa cemas akan kematian karena ia membiarkan rumah masa depannya dipenuhi binatang buas dan berbisa. 

Rumahnya hancur berantakan, bahkan dipenuhi api.


Tapi bila kita persiapkan dengan segala amal shaleh, justru akan membuat kerinduan untuk segera menuju ke sana.


Ia malah merasa asing dan tidak betah di dunia yang fana ini, karena berharap segera menempati kampung nan indah di seberang sana.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” 

(HR. Ibnu Majah no. 4259)


Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan diri untuk kehidupan akherat yang tiada berakhir.


Dan orang yang teramat bodoh adalah orang yang mengorbankan kehidupan yang abadi demi kesenangan di dunia yang hanya sekejap.


Jadilah orang yang cerdas!

Manfaatkan hari ini untuk menyiapkan sesuatu yang lebih baik buat di sana.


Semoga kita bisa menjadi musafir yang cerdas itu.


۞ اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ ْعَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ‎ وَعَلَى الِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ ۞

𝒜𝓁𝓁𝒶𝒽𝓊𝓂𝓂𝒶 𝒮𝒽ℴ𝓁𝓁𝒾 𝒶𝓁𝒶𝒶 𝒮𝒶𝓎𝓎𝒾𝒹𝒾𝓃𝒶 ℳ𝓊𝒽𝒶𝓂𝓂𝒶𝒹

Minggu, 04 Juni 2023

KENANGAN DARI MANTAN REKTOR ITS"*

 *"


*SEORANG SARJANA S3,* SUDAH JADI *DOKTOR* ATAU *PROFESOR,* DIA RELA *MENINGGALKAN PEKERJAAN DUNIANYA,* HANYA DEMI *MONDOK* UNTUK *MEPELAJARI AL-QUR'AN* DAN *MENGHAFALKAN AL-QUR'AN 30 JUZ*


PADAHAL *GAJI NYA BESAR*


DAN *UMURNYA JUGA SUDAH LUMAYAN TUA,* TAPI MASIH *MAU BELAJAR* MENDALAMI *AL-QUR'AN*


BELIAU MEMILIH *UNTUK MONDOK BELAJAR AL-QUR'AN* SEBAGAI *PERSIAPAN MENGHADAP ALLAH* NANTI


*Tulisan Rektor ITS,* Prof Joni Hermana *di wall FB nya*


Coba simak *kutipan inspiratif di bawah ini* yang menggugah...


*Dulu di kala aku kecil*, aku selalu mendapat *peringkat 1* baik di tingkat *SD, SMP,* maupun *SMA...*


*Semua merasa senang*, ibu dan ayah pun *selalu memelukku dengan bangga*. Keluarga sangat senang *melihat anaknya pintar dan berprestasi*.


Aku masuk *perguruan tinggi ternama pun*, tanpa *embel-embel test.*


*Orang tua dan teman-teman lku* merasa *bangga terhadap diriku*.


Tatkala aku kuliah *IPK ku selalu 4 dan lulus dengan predikat cum laude*.


*Semua bahagia*, para Rektor menyalami ku dan *merasa bangga memiliki mahasiswa* seperti diriku, *jangan ditanya tentang orang tuaku,* tentunya mereka *orang yang paling bangga,* bangga *melihat anaknya lulus* dengan predikat *cum laude*. Teman-teman seperjuangan ku pun *gembira*. Semua wajah *memancarkan kebahagiaan*.


*Lulus dari perguruan tinggi* aku bekerja di sebuah perusahaan *Bonafit.* Karirku *sangat melejit dan gajiku sangat besar*.


*Semua pun merasa bangga dengan diriku,* semua rekan bisnisku *selalu menjabat tanganku,* semua hormat dan *mnghargai diriku*, teman-teman lama pun *selalu menyebut namaku* sebagai sslah satu orang *sukses.* 


*Namun ada sesuatu* yang *tak pernah kudapatkan* dalam perjalanan hidup ku *selama ini*. 

*Hatiku selalu kosong dan risau.* Perasaan sepi *selalu memghantui hari-hariku*. 

Ya.. *aku terlalu mengejar duniaku dan mengabaikan akhiratku...* 

*Aku sedih...........*


*Ketika aku berikrar* untuk berjuang bersama *barisan Pembela Rasulullah SAW. dan kubuang segala title keduniaanku* kutinggalkan duniaku *untuk mengejar akhirat dan ridha-Nya.*

Seketika itu pula *dunia terasa berbalik.*

*Yaa...Dunia seperti berbalik.* Ku putuskan *untuk merantau dan memilih mempelajari ilmu Al-Qur'an dan hadist dan kuhafalkan Al-Qur'an 30 juz*.


*Semua orang mencemooh dan memaki diriku*. 

*Tak ada lagi pujian,* senyum kebanggaan, *peluk hangat dll.* Yang ada hanyalah *cacian...*


Terkadang orang memaki diriku, *buat apa sekolah tinggi-tinggi* kalau akhirnya *masuk pesantren* dia itu *orang bodoh...* 

Udah *punya pekerjaan enak* ditinggalin...


*Berbagai caci dan maki tertuju pada diriku,* bahkan dari keluarga *yangg tak jarang membuat diriku sedih...* 😪


"Apa ada *lulusan perguruan tinggi terkenal* masuk *pondok tahfidz...?* Ga sayang apa *udah dapst kerja enak*, mau makan apa dan *dari mana lagi...?*

Kata mereka... 



https://images.app.goo.gl/UPmct5TsFGGDqD9E6


Ya..., *pertanyaan-pertanyaan itu terus menyerang dan menyudutkan diriku.*


*Hingga suatu ketika*


Ketika fajar mulai menyingsing *ku ajak ibu untuk shalat berjamaah di masjid*, masjid tempat *dimana aku biasa menjadi imam.*


*Ini adalah shalat shubuh yang akan selalu ku kenang*. 


*Ku angkat tangan* seraya mengucapkan takbir. *Allaaahuu akbaar...*_

*ku agungkan Allah* dengan seagung-agungnya.


*Ku baca doa iftitah* dalam hati ku, *berdesir hati ini rasanya...* 


Kulanjutkan membaca...


*Al-Fatihah* 

*Bismillahirrahmaanirrahiiim*, (sampai disini hati ku bergetar), ku sebut *nama-Nya yang maha pengasih* dan maha penyayang...


*Alhamdulillahirabbil alamiin*...

Ku panjatkan *puji-pujian untuk Rabb semesta alam..*


Kulanjutkan bacaan lamat-lamat, *ku hayati surah Al-Fatihah* dengan seindah-indahnya taddabur, *tanpa terasa air mata jatuh* membasahi wajahku...


*Berat lidah ku* untuk melanjutkan ayat, *Arrahmaanirrahiim*, 

ku lanjutkan ayat *dengan nada yang mulai bergetar....*


*Malikiyaumiddin*, kali ini *aku sudah tak kuasa* menahan tangisku. 


*Iyyaka na'budu wa iyyaka nastaiin*, "yaa Allah *hanya kepada-Mu lah* kami menyembah dan *hanya kepada-Mu lah* kami meminta pertolongan."


*Hati ku terasa tercabik²,* sering kali diri ini *menuntut kepada Allah untuk memenuhi kebutuhanku,* tapi aku *lalai melaksanakan kewajibanku* kepada-Mu... 


Sampai lah aku *pada akhir ayat* dalam surah Al-Fatihah. *Ku seka air mata dan ku tenangkan sejenak diriku.*


Selanjutnya aku putuskan untuk membaca *Surah _Abasa_. Ku hanyut  dalam bacaan ku,* terasa syahdu, *hingga terdengar isak tangis jamaah* sesekali. *Bacaan terus mengalun,* hingga sampai lah *pada ayat 34.* Tangisku memecah *sejadi-jadinya*.


*Yauma yafirrul mar'u min akhii, wa ummihii wa abiih, wa shaahibatihi wa baniih, likullimriim minhum yauma idzin sya'nuy yughniih...*


*Tangisku pun memecah,* tak mampu *ku lanjutkan ayat tersebut,* tubuhku terasa lemas...


*Setelah shalat shubuh selesai,* dalam perjalanan pulang, *ibu bertanya*:  "mengapa kamu menangis *saat membaca ayat tadi,* apa artinya...?"


*Aku hentikan langkahku dan aku jelaskan pada ibu*. Kutatap wajahnya *dalam-dalam dan aku berkata*: 


*Wahai ibu...*

Ayat itu *mnjelaskan tentang huru hara padang mahsyar* saat kiamat nanti, *semua akan lari meninggalkan saudaranya...*


*Ibunya...*

Bapaknya...

*Istri dan anak-anaknya..*


*Semuanya sibuk dengan urusannya masing-masing.*


*Bila kita kaya* orang akan memuji *dengan sebutan* orang yang *berjaya...*,


*Namun ketika kiamat terjadi* apalah gunanya *segala puji-pujian manusia itu...*


*Semua akan meninggalkan kita*. Bahkan ibupun *akan meninggalkan aku...* 


*Ibu pun meneteskan air mata*, ku seka *air matanya...*


Ku lanjutkan, *Aku pun takut bu* bila di Mahsyar *bekal yang ku bawa sedikit..*


*Pujian orang* yang ramai selama bertahun-tahun pun *kini tak berguna lagi...*


Lalu *kenapa orang beramai-ramai menginginkan pujian dan takut mendapat celaan.* Apakah mereka tak menghiraukan *kehidupan akhiratnya kelak...?*


*Ibu kembali memelukku dan tersenyum.*

Ibu mengatakan, *betapa bahagianya* punya anak *seperti dirimu...*


*Baru kali ini aku merasa bahagia*, karena *ibuku bangga terhadap diriku...*


*Berbagai pencapaian* yang aku dapat dulu, *walaupun ibu sama memeluk ku* namun *baru kali ini* pelukan itu *sangat membekas dalam jiwaku.*


Wahai manusia *sebenarnya apa yang kalian kejar..?*


Dan *apa pula yang mngejar kalian..?*


*Bukankah maut* semakin hari *semakin mendekat...?*


*Dunia yang menipu* jangan sampai *menipu* dan membuat diri *lupa pada negeri akhirat kelak...*


Wahai saudara-saudaraku, *apakah kalian sadar nafas kalian* hanya *beberapa saat lagi...?*


*Sebelum lubang kubur* kalian akan *digali..*


*Apa yang aku dan kalian banggakan* di hadapan *Allah dan Rasul-Nya kelak...?*


*Wallahu a'lam...*


Catatan :

*Jika antum mau share* niatkanlah dengan baik *mudah-mudahan bisa jadi obat* bagi masalah Anda dan *kita semua.....*

Aamiin 3x Yaa Robbal 'aalamiin..


*Sobat sekarang anda memiliki dua pilihan* ,

1. Membiarkan *sedikit pengetahuan ini* hanya dibaca di sini

2. *Membagikan pengetahuan ini* in syaa Allah *bermanfaat* dan *akan menjadi pahala bagimu Aamiin...*


*Boleh di SHARE* sebanyak mungkin... 🙏


*Prof  Dr Ir Joni Hermana* adalah *alumni ITB* ( TL'80 )

Sabtu, 03 Juni 2023

KISAH NYATA SEORANG DOKTER SETELAH IKTIKAF DI MESJID 3 HARI*

 *COPAS*


📜  *


KISAH NYATA yg inspiratif di Bandung .


Sejak pulang dari itikaf di masjid selama tiga  hari bersama jamaah dakwah, dokter Agus menjadi pribadi yang berbeda. Sedikit-sedikit bicaranya Allah, sedikit-sedikit bicaranya Rasulullah.


Cara makan dan cara tidurnya pun berbeda, katanya itulah cara tidur Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.


Rupanya, pengalaman itikaf dan belajar di masjid betul-betul berkesan baginya. Ada semangat baru.


Namun beliau juga jadi lebih banyak merenung. Dia selalu teringat-ingat dengan kalimat yang dibicarakan amir jamaah. 


“Obat tidak dapat menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Allah.


Obat bisa menyembuhkan berhajat kepada Allah, karena sunnatullah. 


Sedang Allah menyembuhkan, tidak berhajat melalui obat. 


Allah bisa menyembuhkan dengan obat atau bahkan tanpa obat.


Yang menyembuhkan bukanlah obat, yang menyembuhkan adalah Allah.”


Dia-pun merenung, bukan hanya obat, bahkan dokter pun tidak punya upaya untuk memberi kesembuhan. Yang memberi kesembuhan adalah Allah. 


Sejak itu, sebelum memeriksa pasiennya, ia selalu bertanya.


“Bapak sebelum ke sini sudah izin dulu kepada Allah?” atau “Sudah berdoa meminta kesembuhan kepada Allah?” atau “Sudah lapor dulu kepada Allah?"


Jika dijawab belum (kebanyakan memang belum), beliau meminta pasien tersebut mengambil air wudhu, dan shalat dua rakaat di tempat yang telah disediakan


Jika memberikan obat, beliau pun berpesan dengan kalimat yang sama. “Obat tidak bisa menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Allah. Namun berobat adalah sunnah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan sebagai ikhtiar dan sunnatullah, agar Allah mau menyembuhkan”.


Ajaib! banyak pasien yang sembuh.


Jika diperiksa dengan ilmu medis, peluang sehatnya hampir tidak ada, ketika diberikan terapi “Yakin” yang diberikan beliau, menjadi sehat.


Pernah ada pasien yang mengeluh sakit, beliau minta agar orang tsb. untuk shalat dua rakaat (minta ampun dan minta kesembuhan kepada Allah), ketika selesai shalat pasien tersebut langsung merasa sehat dan tidak jadi berobat. 


Rudi, Asistennya bertanya, kenapa dia langsung sembuh? 

Dr. Agus katakan, bisa jadi sumber sakitnya ada di hati, hati yang gersang karena jauh dari Allah. 


Efek lain adalah pasiennya pulang dalam keadaan senang dan gembira. Karena tidak hanya fisiknya yang diobati, namun batinnya pun terobati. 


Hati yang sehat, membuat fisik yang kuat. Dan sebaik-baik obat hati adalah Dzikir, Al-Quran, Wudhu, Shalat, Do'a dan tawakal pada Allah.


Pernah ada pasien yang jantungnya bermasalah dan harus dioperasi. 


Selain “Yakin”, beliau juga mengajarkan terapi cara hidup Rasulullah. Pasien tersebut diminta mengamalkan satu sunnah saja, yaitu sunnah tidur. Sebelum tidur berwudhu, kalau bisa shalat dua rakaat, berdoa, berdzikir, menutup aurat, posisi kanan adalah kiblat, dan tubuh miring ke kanan.


Seminggu kemudian, pasien tersebut diperiksa. Alhamdulillah, tidak perlu dilakukan operasi. Allah telah memberi kesembuhan atasnya.


Ada juga pasien yang ginjalnya bermasalah. Beliau minta agar pasien tersebut mengamalkan sunnah makan dan sunnah di dalam WC. Makan dengan duduk sunnah sehingga posisi tubuh otomatis membagi perut menjadi 3 (udara, makanan, dan air). Kemudian buang air kecil dengan cara duduk sunnah, menguras habis-habis kencing yang tersisa dengan berdehem 3 kali, mengurut, dan membasuhnya dengan bersih. 


Seminggu kemudian, saat diperiksa ternyata Allah berikan kesembuhan kepada orang tersebut.


Rudi pernah sedikit protes. Sejak melibatkan Allah, pasiennya jadi jarang bolak-balik dan berisiko mengurangi pendapatan beliau.

Namun Dr. Agus katakan bahwa rezeki adalah urusan Allah. Dan beliau jawab dengan kalimat yang sama dengan redaksi yang berbeda, bahwa “Sakitnya pasien tidak dapat mendatangkan rezeki, yang memberi rezeki adalah Allah. Allah juga bisa mendatangkan rezeki tanpa melalui sakitnya pasien”.


Enam bulan berikutnya seorang pasien yang pernah sembuh karena diminta shalat oleh beliau, datang ke klinik, mengucapkan terima kasih, dan berniat mengajak dokter serta asistennya umroh bulan depan. 


Dr. Agus kemudian memanggil Rudi ke dalam ruangan. Sebenarnya beliau tahu bahwa Rudi ingin:  sekali berangkat umrah. Namun kali ini beliau ingin bertanya langsung dengannya.


“Rudi, bapak ini mengajak kita untuk umrah bulan depan, kamu bersedia?”


Rudi tidak menjawab, namun matanya berbinar, air matanya tampak mau jatuh.

“Sebelum menjawab, saya izin shalat dulu pak,” ucapnya lirih. Ia shalat lama sekali, sepertinya ini shalat dia yang paling khusyu'.


Pelan, terdengar dia terisak-isak menangis dalam doanya.


Demikian mudah-mudahan kisah yang di bagikan membawa banyak manfaat,..... kisah nyata........... 

           

📡 Raih amal shalih  dengan menyebarkan, semoga bermanfaat.

Jazakumullahu khoiron.


💜

Sabtu, 13 Mei 2023

"𝐊𝐈𝐒𝐀𝐇 𝐓𝐀𝐔𝐁𝐀𝐓𝐍𝐘𝐀 𝐇𝐀𝐅𝐈 𝐒𝐀𝐍𝐆 𝐏𝐄𝐌𝐀𝐁𝐔𝐊."

 Assalamu'alaikum.


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

bismillaahir-rohmaanir-rohiim


"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."




ALKISAH sebutlah seorang pemabuk bernama Bishir Al-Hafi. 

Hafi seorang pecandu khamr, tiada hari ia lewatkan tanpa meminum barang haram itu, bermaksiat dan berfoya-foya dimana ada tempat maksiat disitu Hafi mudah ditemui.


Di suatu hari, ketika Hafi terbius dalam lamunan akibat terlalu banyak menenggak khamr ia melihat secarik kertas bertuliskan basmallah, 


Bismillahirrahmanirrahiim. 


Hafi memungutnya, ia simpan kertas itu baik-baik. Bahkan saking hormatnya, Hafi mengoleskan wewangian pada kertas itu.


Malam menjelang, ketika gelap mulai menyelimuti bumi seorang alim bermimpi ketika alim itu terbuai dalam mimpinya, Allah سبحا نه و تعالى memerintahkannya untuk menyampaikan sebuah kalimat pada Hafi.


"Engkau telah mengharumkan nama-Ku, maka Aku pun telah mengharumkan dirimu. 

Engkau telah memuliakan nama-Ku, maka Aku pun telah memuliakan dirimu. 

Engkau telah mensucikan nama-Ku, maka Aku pun telah mensucikan dirimu. 

Demi kebesaran-Ku, niscaya Ku-harumkan namamu, baik di dunia maupun di akhirat nanti."


Tercekat dalam tidurnya, sang alim merasa tak percaya dengan apa yang ia mimpikan. 

Ia meragukannya, karena tahu siapa itu Hafi sebenarnya.


Sang alim kemudian mengambil air wudhu, lalu lakukan shalat dua raka'at Ia kemudian tertidur kembali.


mimpinya berulang kembali. Sang alim lagi-lagi terbangun, mengambil air wudhu serta shalat dua raka'at namun hal itu terus berulang sang alim mendapati mimpi yang sama persis.


Penasaran, keesokan harinya sang alim mencari Hafi. 

Tak sulit untuk menemukannya, karena seperti biasa Hafi tengah mabuk berat.


Sang alim mengajak Hafi berbincang, kemudian menyampaikan apa yang ia mimpikan sementara Hafi begitu serius mencermati ucapan sang alim itu.


Usai pecakapan itu, Hafi mendatangai teman-temanya sambil berkata, "Aku sudah dipanggil. 

Aku akan meninggalkan tempat ini kalian tidak akan pernah bertemu denganku lagi."


Selepas kejadian itu, Hafi berubath total Ia bernetanorfosis dari seorang pemabuk menjadi seorang shalih pada masanya. 

Saking shalihnya, ketika Hafi wafat umat Muslimin berbondong-bondong menshalati jenazahnya Gelombang manusia berdatangan. 

Tidak berhenti dari subuh sampai maghrib itu terjadi selama berhari-hari.


Ketika hidupnya, Imam Bishir Al-Hafi pernah bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ. 

Sang Nabi bertanya, Mengapa engkau mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi dari orang-orang yang semasa dengannu?"

"Tidak tahu, wahai Rasulullah," Jawab Bishir.


Nabi menjelaskan, "Karena kamu mengikuti sunnahku, kamu berbakti pada orang-orang shalih, kamu memberi nasehat kepada sesama, dan karena cintamu kepadaku, keluargaku serta sahabatku ما شاء الله, sungguh Allah Maha pengampun. 

Dia memberikan ampunan kepada siapa yang Dikehendaki-Nya. 

Dia melimpahkan ma'af kepada hanba-hamba-Nya yang meminta, selama hamba hamba tersebut tidak melakukan perbuatan mensekutukan sesuatu pun kepada-Nya.


Selama 40 tahun keinginan Bisyr Al-Hafi untuk merasakan daging panggang tak kunjung terwujud, hal itu disebabkan karena dia tidak memiliki uang. Pernah juga beliau menginginkan memakan kacang buncis, keinginan itu pun juga tak kunjung terwujud. Padahal, kalaupun beliau berkehendak, sebagai salah seorang waliyullah yang dekat kepada Allah, beliau bisa saja meminta segala sesuatu dan pasti dikabulkan. 

Akan tetapi beliau tidak mau melakukannya jalan hidup dan penyangkalan diri yang beliau jalani juga menahan beliau untuk meminum air dari saluran yang ada pemiliknya Rasa peduli atau empatinya kepada orang-orang miskin pun sangat besar. Konon di suatu musim yang begitu dingin, di mana semua orang mengenakan pakaian tebal untuk menghangatkan tubuh mereka, beliau, Bisyr Al-Hafi malah berbuat sebaliknya dia melepas pakaiannya di tengah cuaca yang begitu dingin akibatnya tubuhnya menjadi menggigil kedinginan.


"Hai Abu Nashr (panggilannya), mengapa kau melepaskan pakaianmu di tengah cuaca yang sangat dingin ini?" Teriak orang-orang heran.


"Aku teringat orang-orang miskin aku tidak punya uang untuk membantu mereka oleh karena itu, aku ingin turut merasakan penderitaan mereka."  


Wafatnya Sang Waliyullah Suatu malam, ketika Bisyr Al-Hafi menanti ajalnya pada tahuan 277 H/ 841 M, tiba-tiba datang seseorang dan mengeluhkan nasibnya kepadanya. 

Kemudian Bisyr pun menyerahkan seluruh pakaian yang dia kenakan kepada orang tadi dia pun lantas memakai pakaian lain yang dia pinjam dari salah seorang sahabatnya. 

Dengan menggunakan pakaian pinjaman itulah sang waliyullah tersebut menghadap Tuhannya Di tempat yang lain, seorang laki-laki melihat keledai yang dibawanya membuang kotoran di jalan. Padahal selama Bisyr Al-Hafi hidup, tidak ada seekor keledai pun yang membuang kotoran di jalan karena menghormati Bisyr yang berjalan dengan tanpa menggunakan alas kaki. 

Melihat kenyataan aneh seperti itu spontan si laki-laki tersebut langsung berteriak "Bisyr telah tiada!" Mendengar seruan laki-laki tadi, orang-orang pun pergi untuk menyelidikinya validitas berita tersebut, Dan ternyata apa yang dikatakan oleh laki-laki tadi benar adanya. 

Lalu orang-orang pun menanyakan sesuatu padanya, "Bagaimana kau tahu bahwa Bisyr Al-Hafi telah meninggal dunia?"  


"Karena selama Bisyr Al-Hafi hidup aku tidak pernah menyaksikan ada seekor keledai pun yang membuang kotoran di jalan. 

Dan tadi aku melihat kenyataan yang sebaliknya. Keledaiku membuang kotorannya di jalan dari itu pun aku tahu bahwa Bisyr Al-Hafi telah wafat." Jawab laki-laki tadi.


والله اعلم

Selasa, 09 Mei 2023

Kisah

 #KISAH NYATA


KISAH SEORANG ANAK DI AMSTERDAM, BELANDA


Setiap selesai shalat Jum'at setiap pekannya, seorang imam (masjid) dan anaknya (yang berumur 11 tahun) mempunyai jadwal membagikan buku–buku Islam, di antaranya buku 


"Ath-Thariq ilal Jannah (Jalan Menuju Surga)."


Mereka membagikannya di daerah mereka di pinggiran Kota Amsterdam.


Namun, tibalah suatu hari ketika kota tersebut diguyuri hujan yang sangat lebat dengan suhu yang sangat dingin. 


Sang anakpun mempersiapkan dirinya dengan memakai beberapa lapis pakaian demi mengurangi rasa dingin.


Setelah selesai mempersiapkan diri, ia berkata kepada ayahnya, "Wahai ayahku, aku telah siap."


Ayahnya menjawab, "Siap untuk apa?"


Ia berkata, "Untuk membagikan buku (seperti biasanya)."


Sang ayahpun berucap, "Suhu sangat dingin di luar sana, belum lagi hujan lebat yang mengguyur."


Sang anak menimpali dengan jawaban yang menakjubkan, "Akan tetapi, sungguh banyak orang yang berjalan menuju Neraka di luar sana, dibawah guyuran hujan."


Sang ayah terhenyak dengan jawaban anaknya seraya berkata, "Namun, Ayah tidak akan keluar dengan cuaca seperti ini."


Akhirnya, anak tersebut meminta izin untuk keluar sendiri. Sang ayah berpikir sejenak, dan akhirnya memberikan izin.


Iapun mengambil beberapa buku dari ayahnya untuk dibagikan, dan berkata, "Terima kasih, wahai ayahku."


Dibawah guyuran hujan yang cukup deras, ditemani rasa dingin yang menggigit, anak itu membawa buku-buku itu yang telah dibungkusnya dengan sekantong plastik ukuran sedang agar tidak basah terkena air hujan, lalu ia membagikan buku kepada setiap orang yang ditemui. 


Tidak hanya itu, beberapa rumahpun ia hampiri demi tersebarnya buku tersebut.


Dua jam berlalu, tersisalah 1 buku di tangannya. Namun, sudah tidak ada orang yang lewat di lorong tersebut. 


Akhirnya, ia memilih untuk menghampiri sebuah rumah di seberang jalan untuk menyerahkan buku terakhir tersebut.


Sesampainya di depan rumah, ia pun memencet bel, tapi tidak ada respon. Ia ulangi beberapa kali, hasilnya tetap sama. 


Ketika hendak beranjak seperti ada yang menahan langkahnya, dan ia coba sekali lagi ditambah ketukan tangan kecilnya.


Sebenarnya, ia juga tidak mengerti kenapa ia begitu penasaran dengan rumah tersebut. 


Pintupun terbuka perlahan, disertai munculnya sesosok nenek yang tampak sangat sedih.


Nenek berkata, "Ada yang bisa saya bantu, Nak?"


Si anak berkata (dengan mata yang berkilau dan senyuman yang menerangi dunia), "Saya minta maaf jika mengganggu. Akan tetapi, saya ingin menyampaikan bahwa Allah sangat mencintai dan memperhatikan Nyonya.

Kemudian saya ingin menghadiahkan buku ini kepada Nyonya. Didalamnya, dijelaskan tentang Allah Ta'ala, kewajiban seorang hamba, dan beberapa cara agar dapat memperoleh keridhaannya."


Satu pekan berlalu, seperti biasa sang imam memberikan ceramah di masjid. Seusai ceramah, ia mempersilahkan jama'ah untuk berkonsultasi.


Terdengar sayup-sayup, dari shaf perempuan, seorang perempuan tua berkata, "Tidak ada seorangpun yang mengenal saya disini, dan belum ada yang mengunjungiku sebelumnya."

"Satu pekan yang lalu, saya bukanlah seorang muslim, bahkan tidak pernah terbetik dalam pikiranku hal tersebut sedikitpun. Suamiku telah wafat, dan dia meninggalkanku sebatang kara di bumi ini."


Dan iapun memulai ceritanya bertemu anak itu, 


"Ketika itu cuaca sangat dingin disertai hujan lebat, aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku....... Kesedihanku sangat mendalam, dan tidak ada seorangpun yang peduli padaku. Maka tidak ada alasan bagiku untuk hidup. Akupun naik ke atas kursi, dan mengalungkan leherku dengan seutas tali yang sudah kutambatkan sebelumnya. Ketika hendak melompat, terdengar olehku suara bel. Aku terdiam sejenak dan berpikir, 'Paling sebentar lagi, juga pergi.'


Namun......... suara bel dan ketukan pintu semakin kuat. Aku berkata dalam hati,  'Siapa gerangan yang sudi mengunjungiku? Tidak akan ada yang mengetuk pintu rumahku.'


"Kulepaskan tali yang sudah siap membantuku mengakhiri nyawaku, dan bergegas ke pintu. ketika pintu kubuka, aku melihat sesosok anak kecil dengan pandangan dan senyuman yang belum pernah kulihat sebelumnya."


Aku tidak mampu menggambarkan sosoknya kepada kalian. 


Perkataan lembutnya telah mengetuk hatiku yang mati hingga bangkit kembali.


Ia berkata, 'Nyonya, saya datang untuk menyampaikan bahwa : Allah Ta'ala sangat menyayangi dan memperhatikan nyonya,' lalu dia memberikan buku ini kepadaku.


"De Weg Naar De Hemel"

 (Jalan Menuju Surga)


Anak kecil itu datang kepadaku secara tiba-tiba, dan menghilang dibalik guyuran hujan.


"Hari itu juga secara tiba-tiba setelah menutup pintu, aku langsung membaca buku dari anak kecilku itu sampai selesai."


"Seketika, kusingkirkan tali dan kursi yang telah menungguku, karena aku tidak akan membutuhkannya lagi."


"Sekarang, lihatlah aku. diriku sangat bahagia, karena aku telah mengenal Tuhan-ku yang sesungguhnya."


"Akupun sengaja mendatangi kalian berdasarkan alamat yang tertera di buku tersebut untuk berterima kasih kepada kalian yang telah mengirimkan mutiara kecilku pada waktu yang tepat, hingga aku terbebas dari kekalnya api Neraka."


Air mata semua orang mengalir tanpa terbendung di masjid bergemuruh dengan  pekikan takbir, 

"Allahu Akbar."


Sang imam (ayah dari anak itu) beranjak menuju tempat dimana mutiara kecil itu duduk, dan memeluknya erat, di hadapan para jama'ah.


Sungguh mengharukan. Mungkin tidak ada seorang ayahpun yang tidak bangga terhadap anaknya seperti yang dirasakan imam tersebut.


Judul asli :


 قصة رائعة جدا ومعبرة ومؤثرة  


"DE WEG NAAR DE HEMEL"


Penerjemah:


Shiddiq Al-Banjow


jazakullahu khairan wa waffaqahu


Barakallahu fiikum ____🍃🌹

~~~~⭕️

*🍃Berbagi_Kebaikan🍃*

Senin, 01 Mei 2023

GARAM DAN TELAGA* 


Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.

“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.


Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.


“Segar.”, sahut tamunya.

“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi.

“Tidak”, jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.


“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”


Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”


Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.


**Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.



🌸☕~~~🖋️

MENJAGA AMANAH

Nasihat Islami: Terdapat sebuah kisah menarik tentang amanat yang terjadi dari dua sahabat Nabi yang disebutkan : أن رسول الله صلى الله ع...