Senin, 22 Agustus 2022

Hikmah di balik Kisah Sufi: Hidup Ibarat Segenggam Garam.

 


Assalamualaikum wr wb

Sahabatku rahimakumullah,

Alkisah seorang Guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung. “Kenapa kamu selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? ” sang Guru bertanya.


“Guru , belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, ” jawab sang murid muda.


Sang Guru tertawa terkekeh. “Keh..keh..keh...Nak, ambillah segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”


Sang murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan Guru nya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.


“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru . “Setelah itu coba kamu minum airnya sedikit.”


Sang murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.


“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru .

“Asin, dan perutku jadi mual,” jawab sang murid dengan wajah yang masih meringis.


Sang Guru kembali terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

“Keh..keh...keh...Sekarang kamu ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke telaga di dekat tempat mereka.


“Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke telaga.”


Sang murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke telaga, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan sang Guru , begitu pikirnya.


“Sekarang, coba kamu minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir telaga. Sang murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air telaga, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air telaga yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”


“Segar, segar sekali,” kata sang murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya.


Tentu saja, telaga ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air telaga ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.


“Terasakah rasa garam yang kamu tebarkan tadi?” tanya sang Guru


“Tidak sama sekali,” kata sang murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi.


Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air telaga sampai puas.


“Nak, segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kamu alami sepanjang kehidupanmu itu sudah ditakdirkan oleh Allah swt, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.” ,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “


“Bukankah Allah telah berjanji dalam akhir surat Al Baqarah, “La yukalifuLlah nafsan Illa wus'aha laha maa kasabat Wa alaiha mak tasabat. Dan Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya” Sang Guru melanjutkan nasehatnya.


Sang murid terdiam, mendengarkan petuah Sang Guru Sufi yang terkenal bijaksana itu.

“Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu akan sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi Nak, supaya engkau tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu menjadi seluas telaga agar engkau bisa menikmati kehidupanmu”


Sahabatku rahimakumullah,

Memang dalam perjalanan hidup, kita terkadang kita mengalami kondisi sulit : hari-hari terasa muram, masa depan gelap tak jelas, makin menggelisahkan. Ke sana-sini mencari kerja tak ada kepastian, seluruh jalan terasa buntu, setiap kali memulai usaha selalu merugi --terkadang ditipu kawan--, musibah datang silih berganti, tangisan anak merengek biaya sekolah, sementara penghasilan tak mencukupi, dan setimbun problema hidup lainnya.


Bila kebingungan mencekam, jalan keluar akan semakin buntu. semakin tercekam dalam kebingungan, psikologi menjadi kocar-kacir, segala program yang telah ditata berantakan, masa depan kian gelap , dan persoalan kian menimbun.


Tidak terhitung jumlah orang --utamanya orang yang kurang memiliki iman—telah mengambil jalan pintas , putus asa bahkan bunuh diri dikarenakan kebingungan mencari jalan keluar dari kesulitan hidup. Tidak sedikit pula orang menjadi gila dan stress karena tak tahu bagaimana hendak menyikapi berbagai masalah yang dihadapi.


Sahabatku, apabila perasaan sedih membebani, menjadikan perasaan kalut tak terhindari, misalnya, karena kerugian selama ini yang harus ditanggung, apalagi jika diingat bagaimana " capeknya" berusaha, siang malam bekerja keras hanya musibah yang datang memporak-porandakan semuanya ; perasaan sedih karena merasa sendirian, teman-teman yang pernah dibantu ternyata melupakan dirinya. Tak jarang, rasa menyesal dan kecewa muncul ketika itu.


Ketika rasa penyesalan demikian ini muncul, seluruh keikhlasan yang telah dilakukan hangus. Kesedihan akan semakin menumpuk dan membebani jiwa. Akan sia-sia, menyesali masa lalu, dan pada waktu yang sama, telah menggerogoti simpanan pahala. Semakin sedikit simpanan amal baik, maka semakin terasa sempit jiwa dan kehidupan kita.


Mengambil jalan Pintas dan melakukan tindakan yang merugikan orang lain demi kepentingan sesaat dan keuntungan duniawi, seperti: menipu, mencuri, merampok, korupsi dlsb, sungguh tindakan jahat semacam itu bukan jalan keluar. Justru, makin mempersulit jalan hidup. Dengan tindakan jahat, kepercayaan orang lain akan hilang.


Bukankah modal utama dalam kesuksesan hidup tidak hanya terletak pada banyaknya uang, pun bukan pada kehebatan memasarkan diri, melainkan terletak pada sejauh mana orang lain mempercayai kita. Barang-barang haram yang kita peroleh tidak akan pernah membuat hidup menjadi tenang, tapi membuat semakin gelisah merasa dikejar-kejar sesuatu yang mengancam. Barang haram niscaya akan membangun kerakusan baru : merasa haus untuk memburu lagi barang-barang haram yang baru. Kekayaan haram tidak mendatangkan berkah sama sekali : tak terasa kekayaan tiba-tiba habis begitu saja, sia-sia.


Bagaimana jalan keluarnya ?

Pertama : melanjutkan usaha dan upaya kita dengan tetap jujur, dan menghindari segala perbuatan yang dibenci Allah swt.


Kedua : percaya bahwa segala yang menimpa seorang hamba adalah karena takdir Allah. Meyakini, bahwa segala yang Allah takdirkan adalah yang terbaik buat kita. Dengan demikian, akan datang perasaan tenang karena dirasa yang diyakini : Allah maha Kaya, Maha Kuasa, dan Allah yang menentukan segala nasib hambaNya.


Selain kedekatan yang melahirkan rasa tenang, hidup akan semakin bersih ; kepercayaan orang lain akan semakin kuat. Selanjutnya, jalan hidup akan semakin terbuka lebar.


Ketiga : setiap kali seorang hamba memasuki kesulitan, berarti, kemudahan semakin dekat dan jalan keluar segera ditemukan. Janji Allah (Q.S. Alam Nasyrah : 5-6) :


"Fainna ma'al usyri yusra, inna ma'al usyri yusra". (Maka bersama setiap kesulitan akan disertai kemudahan).


Seperti apa yang disampaikan oleh Guru Sufi tadi, dalam menyikapi ketetapan Allah, akan tergantung kepada diri kita masing-masing.


Sahabatku, penderitaan yang kita alami itu akan sangat tergantung dari besarnya hati kita. Dan seperti Guru sufi bilang dalam Notes di atas, bahwa segala masalah dalam hidup itu ibarati segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kita alami sepanjang kehidupann kita itu sudah ditakdirkan oleh Allah swt, sesuai untuk diri kita masing-masing. Jumlahnya-pun tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah.


Nah supaya kita tidak merasa menderita, marilah kita berhent menjadi gelas. Jadikan hati dalam dada kita menjadi seluas telaga agar kita bisa menikmati hidup dan yakinlah akan firman-NYA, bahwa ” "Fainna ma'al usyri yusra, inna ma'al usyri yusra". (Maka bersama setiap kesulitan akan disertai kemudahan).


Kemudian berdoalah antara lain dengan Do’a lanjutan ayat Al Baqarah di atas, “Rabban la tuakhizna innasiinaa aw akhtho'na. Rabbana wa laa tahmil alaina ishran kama hamaltahu 'alalladziina min qablina. Rabbana wa laa tuhammilna ma laa tho qotholana bih Wa'fuanna waghfirlanaa warhamnaa, anta mawlana fanshurna 'alal qawmil kafiriin, (Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir)."


Wallahulam bissawab


Semoga Allah Swt senantiasa memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat serta memberikan petunjuk kepada kita dan anak-anak keturunan kita. Amiin


Semangat Pagi sahabatku, Selamat berlibur akhir pekan (long weekend) bersama keluarga dan jangan lupa untuk saling berlomba dalam kebaikan dan saling berpesan dalam kebenaran dan kesabaran.


Untuk Anda yg sedang dilanda musibah/sakit, Semoga Allah segera mengangkat musibah/ penyakitnya dan menggantinya dgn kesehatan dan kebahagiaan. Amin YRA


Allahummashallii ala sayyidina Muhammad wa ala'ali sayyidina Muhammad.


Semoga tulisan sederhana ini membawa manfaat bagi diri saya dan kita semua. Amin YRA


Terima kasih banyak, thank you n matur Syukran atas waktunya.


Bâraka Allâh fîkum. Amiin


Lebak Bulus, 8 April 2012 jam 06.00 WIB

Wassalamualaikum wr wb

Imam Puji Hartono (IPH)


HALAMAN :

7 April 2012   23:08 Diperbarui: 7 April 2012   23:08

7282 0 0

+

Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

“Segar, segar sekali,” kata sang murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya.


Tentu saja, telaga ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air telaga ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.


“Terasakah rasa garam yang kamu tebarkan tadi?” tanya sang Guru


“Tidak sama sekali,” kata sang murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi.


Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air telaga sampai puas.


“Nak, segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kamu alami sepanjang kehidupanmu itu sudah ditakdirkan oleh Allah swt, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.” ,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “


“Bukankah Allah telah berjanji dalam akhir surat Al Baqarah, “La yukalifuLlah nafsan Illa wus'aha laha maa kasabat Wa alaiha mak tasabat. Dan Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya” Sang Guru melanjutkan nasehatnya.


Sang murid terdiam, mendengarkan petuah Sang Guru Sufi yang terkenal bijaksana itu.

“Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu akan sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi Nak, supaya engkau tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu menjadi seluas telaga agar engkau bisa menikmati kehidupanmu”


Sahabatku rahimakumullah,

Memang dalam perjalanan hidup, kita terkadang kita mengalami kondisi sulit : hari-hari terasa muram, masa depan gelap tak jelas, makin menggelisahkan. Ke sana-sini mencari kerja tak ada kepastian, seluruh jalan terasa buntu, setiap kali memulai usaha selalu merugi --terkadang ditipu kawan--, musibah datang silih berganti, tangisan anak merengek biaya sekolah, sementara penghasilan tak mencukupi, dan setimbun problema hidup lainnya.


Bila kebingungan mencekam, jalan keluar akan semakin buntu. semakin tercekam dalam kebingungan, psikologi menjadi kocar-kacir, segala program yang telah ditata berantakan, masa depan kian gelap , dan persoalan kian menimbun.


Tidak terhitung jumlah orang --utamanya orang yang kurang memiliki iman—telah mengambil jalan pintas , putus asa bahkan bunuh diri dikarenakan kebingungan mencari jalan keluar dari kesulitan hidup. Tidak sedikit pula orang menjadi gila dan stress karena tak tahu bagaimana hendak menyikapi berbagai masalah yang dihadapi.


7 April 2012   23:08 Diperbarui: 7 April 2012   23:08

7282 0 0

CERITA MOTIVASI SI TAKDIR DAN SI LOGIKA



Ada dua orang bersahabat, yang satu bernama "Logika" dan yang satunya lagi bernama "Takdir". 


Keduanya naik mobil dalam sebuah perjalanan yang panjang ? 


Di tengah perjalanan mobil mereka kehabisan bahan bakar. Keduanya berusaha melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sebelum datang waktu malam.


Keduanya berusaha menemukan tempat beristirahat, setelah itu baru melanjutkan lagi perjalanan. 


Si Logika memutuskan untuk tidur di bawah sebatang pohon.


Sedangkan si Takdir memilih tidur di tengah jalan.


Logika berkata kepada Takdir, "Kamu itu gila ! Kamu menjatuhkan dirimu kepada kematian. Boleh jadi ketika kamu tidur ada mobil yang lewat dan melindas tubuhmu." 


Takdir menjawab, "Saya tidak akan tidur kecuali di tengah jalan ini, Boleh jadi ada mobil yang datang lalu ia melihatku dan mengajakku bersamanya."


Akhirnya Logika betul-betul tidur di bawah pohon dan Takdir tidur di tengah jalan. 


Tidak beberapa lama setelah keduanya tertidur lewat sebuah mobil besar dalam kecepatan tinggi. Tatkala ia melihat seseorang tidur di tengah jalan, ia berusaha berhenti dengan mendadak, tapi sayang ia tidak bisa.


Akhirnya ia membanting stir dan mobil itu berbelok ke arah pohon dan langsung menabrak Logika, dan selamatlah si Takdir.


Inilah Kenyataan HIDUP !


TAKDIR memainkan peranannya di tengah-tengah manusia, sekalipun kadang-kadang ia bertentangan dengan Logika.


SEBAB, "SEMUA RENCANA MANUSIA TIDAK MELEBIHI RENCANA TUHAN."


RENUNGKAN...........!!!:


Boleh jadi sewaktu terjadinya delay dalam penerbangan, mungkin ada keselamatan di balik itu !


Boleh jadi tertunda kita mendapatkan hak kita, karena mungkin ada hak orang lain yang selama ini kita abaikan dan kita tidak memperdulikan !


Boleh jadi kita terlambat menikah, ada keberkahan di balik itu !


Boleh jadi kita belum dikaruniai seorang anak, sebab ada kebaikan di balik itu !


Boleh jadi ditolaknya lamaran kerja kita, ada pembelajaran berharga setelah itu !


Tertundanya pertolongan dan kemenangan pasti ada hikmah yang sangat besar dibalik itu !


Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal itu sebenarnya baik bagimu !

Jumat, 24 Juni 2022

KISAH 70 RIBU MALAIKAT MEMBACA SHALAWAT

 


 بِسْـــــــــــــــــــــمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم


Kisah ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radliyallaahu anhu : 


Pada suatu pagi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersama dengan sahabatnya Anas bin Malik r.a. melihat suatu keanehan. Bagaimana tidak, matahari terlihat begitu redup dan kurang bercahaya seperti biasanya.


Tak lama kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dihampiri oleh Malaikat Jibril.

Lalu Rasulullah SAW bertanya kepada Malaikat Jibril : "Wahai Jibril, kenapa Matahari pagi ini terbit dalam keadaan redup? Padahal tidak mendung?"


"Ya Rasulullah, Matahari ini nampak redup karena terlalu banyak sayap para malaikat yang menghalanginya." jawab Malaikat Jibril.

Rasulullah SAW bertanya lagi : "Wahai Jibril, berapa jumlah Malaikat yang menghalangi matahari saat ini?"

"Ya Rasulullah, 70 ribu Malaikat." jawab Malaikat Jibril.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Apa gerangan yang menjadikan Malaikat menutupi Matahari?"

Kemudian Malaikat Jibril menjawab : "Ketahuilah wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah SWT telah mengutus 70 ribu Malaikat agar membacakan shalawat kepada salah satu umatmu."

"Siapakah dia, wahai Jibril?" tanya Rasulullah SAW.


"Dialah Muawiyah...!!!" jawab Malaikat Jibril.

Rasulullah SAW bertanya lagi : "Apa yang telah dilakukan oleh Muawiyah sehingga saat ia meninggal mendapatkan kemuliaan yang sangat luar biasa ini?"


Malaikat Jibril menjawab : "Ketahuilah wahai Rasulullah, sesungguhnya Muawiyah itu semasa hidupnya banyak membaca Surat Al-Ikhlas di waktu malam, siang, pagi, waktu duduk, waktu berjalan, waktu berdiri, bahkan dalam setiap keadaan selalu membaca Surat Al-Ikhlas."

Malaikat Jibril melanjutkan penuturannya : "Dari itulah Allah SWT mengutus sebanyak 70 ribu malaikat untuk membacakan shalawat kepada umatmu yang bernama Muawiyah tersebut."


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

'Apakah seorang di antara kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga Al-Qur'an dalam semalam?" Mereka menjawab, "Bagaimana mungkin kami bisa membaca sepertigai Al-Qur'an?" Lalu Nabi SAW bersabda, "Qul huwallahu ahad itu sebanding dengan sepertiga Al-Qur'an.'' (H.R. Muslim no. 1922)



Semoga kita dapat mengambil pengetahuan bermanfaat yang bernilai ibadah lewat tulisan ini dan mengamalkan dalam kehidupan sehari - hari.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya, maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala.(HR. Al-Bukhari). 

https://www.facebook.com/groups/291497501530917/permalink/1022168725130454/https://www.facebook.com/groups/291497501530917/permalink/1022168725130454/


Barokallahu fikum semoga bermanfaat

Senin, 13 Juni 2022

TIADA YANG ABADI"* 


 *"https://www.facebook.com/groups/1016398002204881/permalink/1354504238394254/


Desainer busana  dan penulis paling terkenal di dunia, Crisda Rodriguez, menulis artikel ini sebelum dia meninggal Dunia  karena kanker. 


1.  Saya memiliki merek mobil paling mahal di dunia di garasi saya tapi sekarang saya bepergian dengan kursi roda.


 2.  Rumah saya penuh dengan segala macam desainer pakaian, sepatu dan barang berharga. Tapi tubuhku terbungkus dalam lembaran kain kecil yang disediakan oleh rumah sakit.


 3.  Ada cukup uang di bank. Tapi sekarang aku tidak mendapatkan keuntungan dari uang itu. 


4.  Rumahku seperti istana tapi aku berbaring di ranjang ukuran ganda di rumah sakit. 


5.  Aku bisa pergi dari hotel bintang lima ke hotel bintang lima lainnya. Tapi sekarang aku menghabiskan waktu pindah dari lab ke lab di rumah sakit. 


6.  Aku memberi tanda tangan pada ratusan orang. Catatan dokter hari ini adalah tanda tanganku.


 7.  Aku punya tujuh perhiasan untuk menghias rambutku - sekarang  aku tidak memiliki rambut di kepalaku.


 8.  Dengan jet pribadi, aku bisa terbang kemanapun aku mau. Tapi sekarang aku butuh bantuan dua orang untuk sampai ke teras rumah sakit.


 9.  Meskipun ada banyak makanan, tapi dietku ada dua tablet sehari dan beberapa tetes garam saat malam hari.


Rumah ini, mobil ini, jet ini, furnitur ini, begitu banyak rekening bank, begitu banyak reputasi dan ketenaran, tidak satupun dari mereka yang bermanfaat.


Tak satu pun dari  semua barang berharga bisa memberi saya lega. 


Kehidupan yang sebenarnya adalah tentang menghibur banyak orang, membuat orang banyak bahagia dan membuat mereka tersenyum bahagia. "Dan tidak ada yang nyata selain kematian" Hidup begitu singkat." lalu apa yang harus di sombongkan, teruslah berbenah diri karena kita tidak tahu kapan kita dipanggil Tuhan"


Renungan hari ini untuk diriku !

Kamis, 26 Mei 2022

Loyalitas Singa to Student.ok




Dahulu kala di Kota Roma, hiduplah seorang budak bernama Androcles yang melarikan diri dari majikannya dan menyembunyikan diri di dalam hutan. Dia berjalan tak tentu arah di hutan tersebut cukup lama, hingga dia merasa kelelahan dan kelaparan serta mulai berputus asa.


Sesaat kemudian, dia mendengar suara seekor singa di dekatnya yang mengaum dengan keras. Androcles yang kelelahan, bangkit dan bergegas untuk pergi karena rasa takutnya kepada singa, tetapi saat dia berjalan menembus semak-semak dia tersandung pada akar pohon dan terjatuh. Ketika dia mencoba untuk bangkit kembali, dia melihat seekor singa yang sangat besar datang ke arahnya, berjalan terpincang-pincang sambil mengangkat satu kakinya ke depan.


Androcles yang malang menjadi putus asa karena dia tidak memiliki kekuatan lagi untuk bangkit dan melarikan diri pada saat sang singa besar berjalan menuju ke arahnya. Ketika hewan besar itu tiba di depannya, Androcles ketakutan setengah mati. Akan tetapi singa tersebut tidak menyerangnya, dan hanya mengeluh serta mendesah sambil menatap Androcles.


Androcles pun melihat bahwa kaki kanan yang dijulurkan oleh sang Singa, berlumuran darah dan bengkak. Androcles mencoba melihat lebih dekat, dan saat itu dia melihat sebuah duri besar tertusuk pada kaki kanan sang Singa. Androcles mengumpulkan keberanian dan menarik keluar duri yang menusuk cakar singa, yang saat itu langsung meraung dengan keras karena kesakitan. Tetapi tidak lama setelah itu, sepertinya sang Singa menjadi lebih lega dan tenang, bahkan sang Singa pun menggosok-gosokkan kepala dan badannya ke Androcles sebagai tanda kasih sayang dan terima kasih.


Apa yang ditakutkan oleh Androcles menjadi sirna, sang Singa bukan hanya tidak memangsa dirinya, tetapi dalam waktu tidak berapa lama, singa tersebut pergi dan kembali sambil membawa rusa muda yang berhasil ditangkapnya ke hadapan Androcles, sehingga Androcles bisa mendapatkan makanan di saat itu.


Untuk beberapa waktu, sang Singa terus membawa hewan hutan yang dimangsanya untuk Androcles yang semakin hari semakin akrab dengan hewan besar tersebut.


Namun suatu hari, sejumlah prajurit memasuki hutan dan menemukan Androcles. Ketika itu, dia ia tidak dapat menjelaskan apa yang dia perbuat di dalam hutan. Para prajurit tersebut menahan Androcles, dan membawanya kembali ke kota di mana dia melarikan diri. Di sanalah tuannya mengenali dia dan membawanya ke depan pihak berwenang. Dia pun dijatuhi hukuman mati karena telah melarikan diri dari majikannya.


Pada zaman tersebut, telah menjadi kebiasaan bagi bangsa Roma untuk memasukkan tahanan yang akan dihukum mati, seperti para pembunuh dan penjahat lainnya, ke dalam suatu arena besar bersama dengan seekor singa, sehingga di saat para penjahat menerima hukuman matinya di arena, masyarakat bisa menonton pertarungan antara mereka dan binatang buas tersebut.


Androcles juga dijatuhi hukuman mati, dan akan tempatkan di arena tarung beserta seekor singa. Pada hari yang telah ditentukan, dia pun ditempatkan di arena sendirian dan hanya berbekal tombak untuk melindungi dirinya dari dari serangan singa yang buas. Kaisar yang berada di barisan kursi untuk kalangan istana, memberikan sinyal untuk melepaskan singa dan memulai pertarungan.


Saat sang Singa keluar dari kandangnya dan mendekati Androcles, apa yang terjadi? Bukannya sang Singa melompat ke atasnya untuk menerkam, tetapi sang Singa malah menunjukkan sikap hormat kepadanya, menggosok-gosokkan kepalanya pada Androcles yang dengan segera membelai kepala sang Singa. Ternyata singa tersebut adalah singa yang pernah bertemu dengan Androcles di dalam hutan.


Kaisar yang terkejut melihat perilaku aneh dari sang Singa, memanggil Androcles untuk datang kepadanya dan bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi, sehingga singa yang terkenal ganas, menjadi jinak di hadapan Androcles. Androcles pun menceritakan semua yang telah terjadi terhadapnya kepada sang Kaisar, dan bagaimana singa itu menunjukkan rasa terima kasihnya setelah dia mencabut duri yang menusuk di telapak kakinya.


Sang Kaisar pun mengampuni Androcles dan memerintahkan majikan Androcles untuk membebaskan Androcles dari perbudakan, sementara sang Singa pun dibawa kembali ke hutan untuk dilepaskan sehingga sang Singa bisa menikmati kebebasannya kembali.


_____________√••┈❀🍃💞☕❀┈•••

Apa hikmah yang bisa kita ambil?


Apabila Seekor Binatang Buas seperti Singa yang kelaparan saja membalas budi kepada orang yang telah membantunya, bukankah seharusnya terlebih lagi manusia?


JADILAH ORANG YANG MAMPU MEMBALAS KEBAIKAN DENGAN KEBAIKAN!!! Maka Allah akan melimpahkan kehidupan Anda dengan kebaikan..!



🌸☕~~~~🖋️

Tetesan Air yang Dapat Melubangi Batu_* 

 *_RENUNGAN MALAM_*

        💫🌎✨

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh



*_🌴



Kisah ini berawal dari seorang pemuda biasa yang dianggap bodoh dan terbelakang yang memiliki orangtua dengan dukungan luar biasa sehingga ketika orangtuanya terkena wabah dan hampir meninggal, mereka memberikan sebuah wejangan bagi pemuda ini, “Jika kami meninggal, maka tidak ada lagi yang akan mendukungmu, oleh karena itu kamu harus bisa mandiri. Jadilah seperti tetesan air yang mampu melubangi batu, fokuslah pada apa yang kamu kuasai dan kamu akan menjadi seseorang yang disegani banyak orang.”


Pemuda ini kemudian melanjutkan usaha ayahnya sebagai tukang kayu, dan karena sejak kecil ia sudah sering membantu ayahnya dalam menilai kayu, ia memperoleh kemampuan untuk mengenali dan menilai kayu dengan baik.


Suatu hari, seorang yang tua mendatangi pemuda tersebut untuk mencari kayu yang dapat dipahat menjadi patung. Pemuda tersebut dengan cepat memberikan kayu terbaik untuk pahatan.


Siapa sangka, orangtua tersebut nyatanya adalah pemahat terkenal di desa tersebut, dan karena kayu yang diperoleh dari pemuda tersebut sangatlah bagus, ia menjadi langganan yang terus membeli kayu dari sang pemuda.


Lama kelamaan, pemuda tersebut menjadi dekat dengan sang pemahat, dan ia pun memutuskan untuk belajar memahat dari sang pemahat. Namun, saat ia baru akan mulai belajar memahat, sang pemahat memberikan wejangan, “Jika ingin menjadi pemahat terbaik, jadilah seperti tetesan air yang mampu melubangi batu, fokuslah pada apa yang kamu kuasai maka kamu dapat menjadi seorang yang sukses.”


Mendengar nasihat tersebut, pemuda itu menyadari bahwa wejangan dari sang pemahat dan orangtuanya memang menjadi pedoman kesuksesan, dimana walaupun ia adalah seorang yang dulu dianggap bodoh dan terbelakang, dengan fokus dan kerja keras, ia akhirnya menjadi pemahat yang disegani di seluruh dunia.


*-------------------------------------------*


Sebuah kisah yang dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua, yang membuktikan bahwa tidak peduli seberapa kerasnya sebuah batu, tetesan air dapat menaklukannya. Ini merupakan sebuah analogi dimana dunia ini penuh dengan ujian hidup yang begitu kerasnya, namun tetap dapat dikalahkan oleh tekad dan fokus perjuangan yang dilakukan.


*Wallahu A'lam Bissowab*

Rabu, 25 Mei 2022

KISAH NYATA - Sang Miliarder, Merawat Sendiri Istri Selama 25 Tahun

 https://www.facebook.com/100009740344173/posts/1675259929475336/


Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang tokoh di balik kemajuan industri reksadana di Indonesia sekarang ini, juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini. Ia tergolong miliader.


Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan, pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tulisan ini, bukan hendak menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Tetapi, kesehariannya yang luar biasa.


Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja, bahkan sudah mendekati malam. Tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.


Cobaan menerpa, tatkala istrinya melahirkan anak yang ke empat. Tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah, bahkan terasa tidak bertulang. Lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.


Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia gendong istrinya ke depan TV, agar tidak merasa kesepian. Istrinya sudah tidak dapat bicara, selalu hanya terlihat senyum.


Untunglah kantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya untuk makan siang.


Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yang dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan mata, namun bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan.


Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun.


Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yang masih kuliah. Pada suatu hari…


Saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya – karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing – Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu: Semua anaknya dapat berhasil.


Dengan kalimat yang cukup hati-hati, si anak sulung berkata:


“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak. Bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu,” kata si sulung dengan air mata berlinang.


“Sudah ke empat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibu pun akan mengijinkannya. Kapan bapak menikmati masa tua bapak? Dengan berkorban seperti ini, kami tidak tega melihat bapak, kami berjanji akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian,” tambah si melanjutkan permohonannya.


”Anak-anakku… Jika perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi. Tetapi ketahuilah, dengan adanya ibu kalian di sampingku, itu sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian." Sejenak kerongkongannya tersekat.


"Kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta, tidak satu pun dapat dihargai dengan apa pun. Coba kalian tanya ibumu, apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini?


Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang? Kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit?” Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya.


Meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno. Mereka juga menyaksikan butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno, yang dengan pilu menatap mata suami yang sangat dicintainya.


Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta di Jakarta untuk menjadi narasumber. Host mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno, kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa? Di saat itulah meledak tangis Pak Suyatno, bersama tamu yang hadir di studio yang kebanyakan kaum perempuan pun tidak sanggup menahan haru.


Pak Suyatno bercerita: “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinan tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian, semua itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, yang sewaktu sehat dia dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya, bukan dengan mata. Dia memberi saya empat anak yang lucu-lucu.


Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama, itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintai dia apa adanya. Jika dia sehat pun, saya belum tentu mau mencari penggantinya, apalagi dia sakit,” katanya sembari berurai air mata.


Setiap malam saya bersujud dan menangis. Saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas saja. Saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya. Cinta saya kepada istri saya, sepenuhnya saya serahkan kepada Allah


Semoga menginspirasi

MENJAGA AMANAH

Nasihat Islami: Terdapat sebuah kisah menarik tentang amanat yang terjadi dari dua sahabat Nabi yang disebutkan : أن رسول الله صلى الله ع...