Sabtu, 13 Mei 2023

"๐Š๐ˆ๐’๐€๐‡ ๐“๐€๐”๐๐€๐“๐๐˜๐€ ๐‡๐€๐…๐ˆ ๐’๐€๐๐† ๐๐„๐Œ๐€๐๐”๐Š."

 Assalamu'alaikum.


ุจِุณْู…ِ ุงู„ู„ّٰู‡ِ ุงู„ุฑَّุญْู…ٰู†ِ ุงู„ุฑَّุญِูŠْู…ِ

bismillaahir-rohmaanir-rohiim


"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."




ALKISAH sebutlah seorang pemabuk bernama Bishir Al-Hafi. 

Hafi seorang pecandu khamr, tiada hari ia lewatkan tanpa meminum barang haram itu, bermaksiat dan berfoya-foya dimana ada tempat maksiat disitu Hafi mudah ditemui.


Di suatu hari, ketika Hafi terbius dalam lamunan akibat terlalu banyak menenggak khamr ia melihat secarik kertas bertuliskan basmallah, 


Bismillahirrahmanirrahiim. 


Hafi memungutnya, ia simpan kertas itu baik-baik. Bahkan saking hormatnya, Hafi mengoleskan wewangian pada kertas itu.


Malam menjelang, ketika gelap mulai menyelimuti bumi seorang alim bermimpi ketika alim itu terbuai dalam mimpinya, Allah ุณุจุญุง ู†ู‡ ูˆ ุชุนุงู„ู‰ memerintahkannya untuk menyampaikan sebuah kalimat pada Hafi.


"Engkau telah mengharumkan nama-Ku, maka Aku pun telah mengharumkan dirimu. 

Engkau telah memuliakan nama-Ku, maka Aku pun telah memuliakan dirimu. 

Engkau telah mensucikan nama-Ku, maka Aku pun telah mensucikan dirimu. 

Demi kebesaran-Ku, niscaya Ku-harumkan namamu, baik di dunia maupun di akhirat nanti."


Tercekat dalam tidurnya, sang alim merasa tak percaya dengan apa yang ia mimpikan. 

Ia meragukannya, karena tahu siapa itu Hafi sebenarnya.


Sang alim kemudian mengambil air wudhu, lalu lakukan shalat dua raka'at Ia kemudian tertidur kembali.


mimpinya berulang kembali. Sang alim lagi-lagi terbangun, mengambil air wudhu serta shalat dua raka'at namun hal itu terus berulang sang alim mendapati mimpi yang sama persis.


Penasaran, keesokan harinya sang alim mencari Hafi. 

Tak sulit untuk menemukannya, karena seperti biasa Hafi tengah mabuk berat.


Sang alim mengajak Hafi berbincang, kemudian menyampaikan apa yang ia mimpikan sementara Hafi begitu serius mencermati ucapan sang alim itu.


Usai pecakapan itu, Hafi mendatangai teman-temanya sambil berkata, "Aku sudah dipanggil. 

Aku akan meninggalkan tempat ini kalian tidak akan pernah bertemu denganku lagi."


Selepas kejadian itu, Hafi berubath total Ia bernetanorfosis dari seorang pemabuk menjadi seorang shalih pada masanya. 

Saking shalihnya, ketika Hafi wafat umat Muslimin berbondong-bondong menshalati jenazahnya Gelombang manusia berdatangan. 

Tidak berhenti dari subuh sampai maghrib itu terjadi selama berhari-hari.


Ketika hidupnya, Imam Bishir Al-Hafi pernah bermimpi bertemu Rasulullah ๏ทบ. 

Sang Nabi bertanya, Mengapa engkau mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi dari orang-orang yang semasa dengannu?"

"Tidak tahu, wahai Rasulullah," Jawab Bishir.


Nabi menjelaskan, "Karena kamu mengikuti sunnahku, kamu berbakti pada orang-orang shalih, kamu memberi nasehat kepada sesama, dan karena cintamu kepadaku, keluargaku serta sahabatku ู…ุง ุดุงุก ุงู„ู„ู‡, sungguh Allah Maha pengampun. 

Dia memberikan ampunan kepada siapa yang Dikehendaki-Nya. 

Dia melimpahkan ma'af kepada hanba-hamba-Nya yang meminta, selama hamba hamba tersebut tidak melakukan perbuatan mensekutukan sesuatu pun kepada-Nya.


Selama 40 tahun keinginan Bisyr Al-Hafi untuk merasakan daging panggang tak kunjung terwujud, hal itu disebabkan karena dia tidak memiliki uang. Pernah juga beliau menginginkan memakan kacang buncis, keinginan itu pun juga tak kunjung terwujud. Padahal, kalaupun beliau berkehendak, sebagai salah seorang waliyullah yang dekat kepada Allah, beliau bisa saja meminta segala sesuatu dan pasti dikabulkan. 

Akan tetapi beliau tidak mau melakukannya jalan hidup dan penyangkalan diri yang beliau jalani juga menahan beliau untuk meminum air dari saluran yang ada pemiliknya Rasa peduli atau empatinya kepada orang-orang miskin pun sangat besar. Konon di suatu musim yang begitu dingin, di mana semua orang mengenakan pakaian tebal untuk menghangatkan tubuh mereka, beliau, Bisyr Al-Hafi malah berbuat sebaliknya dia melepas pakaiannya di tengah cuaca yang begitu dingin akibatnya tubuhnya menjadi menggigil kedinginan.


"Hai Abu Nashr (panggilannya), mengapa kau melepaskan pakaianmu di tengah cuaca yang sangat dingin ini?" Teriak orang-orang heran.


"Aku teringat orang-orang miskin aku tidak punya uang untuk membantu mereka oleh karena itu, aku ingin turut merasakan penderitaan mereka."  


Wafatnya Sang Waliyullah Suatu malam, ketika Bisyr Al-Hafi menanti ajalnya pada tahuan 277 H/ 841 M, tiba-tiba datang seseorang dan mengeluhkan nasibnya kepadanya. 

Kemudian Bisyr pun menyerahkan seluruh pakaian yang dia kenakan kepada orang tadi dia pun lantas memakai pakaian lain yang dia pinjam dari salah seorang sahabatnya. 

Dengan menggunakan pakaian pinjaman itulah sang waliyullah tersebut menghadap Tuhannya Di tempat yang lain, seorang laki-laki melihat keledai yang dibawanya membuang kotoran di jalan. Padahal selama Bisyr Al-Hafi hidup, tidak ada seekor keledai pun yang membuang kotoran di jalan karena menghormati Bisyr yang berjalan dengan tanpa menggunakan alas kaki. 

Melihat kenyataan aneh seperti itu spontan si laki-laki tersebut langsung berteriak "Bisyr telah tiada!" Mendengar seruan laki-laki tadi, orang-orang pun pergi untuk menyelidikinya validitas berita tersebut, Dan ternyata apa yang dikatakan oleh laki-laki tadi benar adanya. 

Lalu orang-orang pun menanyakan sesuatu padanya, "Bagaimana kau tahu bahwa Bisyr Al-Hafi telah meninggal dunia?"  


"Karena selama Bisyr Al-Hafi hidup aku tidak pernah menyaksikan ada seekor keledai pun yang membuang kotoran di jalan. 

Dan tadi aku melihat kenyataan yang sebaliknya. Keledaiku membuang kotorannya di jalan dari itu pun aku tahu bahwa Bisyr Al-Hafi telah wafat." Jawab laki-laki tadi.


ูˆุงู„ู„ู‡ ุงุนู„ู…

Selasa, 09 Mei 2023

Kisah

 #KISAH NYATA


KISAH SEORANG ANAK DI AMSTERDAM, BELANDA


Setiap selesai shalat Jum'at setiap pekannya, seorang imam (masjid) dan anaknya (yang berumur 11 tahun) mempunyai jadwal membagikan buku–buku Islam, di antaranya buku 


"Ath-Thariq ilal Jannah (Jalan Menuju Surga)."


Mereka membagikannya di daerah mereka di pinggiran Kota Amsterdam.


Namun, tibalah suatu hari ketika kota tersebut diguyuri hujan yang sangat lebat dengan suhu yang sangat dingin. 


Sang anakpun mempersiapkan dirinya dengan memakai beberapa lapis pakaian demi mengurangi rasa dingin.


Setelah selesai mempersiapkan diri, ia berkata kepada ayahnya, "Wahai ayahku, aku telah siap."


Ayahnya menjawab, "Siap untuk apa?"


Ia berkata, "Untuk membagikan buku (seperti biasanya)."


Sang ayahpun berucap, "Suhu sangat dingin di luar sana, belum lagi hujan lebat yang mengguyur."


Sang anak menimpali dengan jawaban yang menakjubkan, "Akan tetapi, sungguh banyak orang yang berjalan menuju Neraka di luar sana, dibawah guyuran hujan."


Sang ayah terhenyak dengan jawaban anaknya seraya berkata, "Namun, Ayah tidak akan keluar dengan cuaca seperti ini."


Akhirnya, anak tersebut meminta izin untuk keluar sendiri. Sang ayah berpikir sejenak, dan akhirnya memberikan izin.


Iapun mengambil beberapa buku dari ayahnya untuk dibagikan, dan berkata, "Terima kasih, wahai ayahku."


Dibawah guyuran hujan yang cukup deras, ditemani rasa dingin yang menggigit, anak itu membawa buku-buku itu yang telah dibungkusnya dengan sekantong plastik ukuran sedang agar tidak basah terkena air hujan, lalu ia membagikan buku kepada setiap orang yang ditemui. 


Tidak hanya itu, beberapa rumahpun ia hampiri demi tersebarnya buku tersebut.


Dua jam berlalu, tersisalah 1 buku di tangannya. Namun, sudah tidak ada orang yang lewat di lorong tersebut. 


Akhirnya, ia memilih untuk menghampiri sebuah rumah di seberang jalan untuk menyerahkan buku terakhir tersebut.


Sesampainya di depan rumah, ia pun memencet bel, tapi tidak ada respon. Ia ulangi beberapa kali, hasilnya tetap sama. 


Ketika hendak beranjak seperti ada yang menahan langkahnya, dan ia coba sekali lagi ditambah ketukan tangan kecilnya.


Sebenarnya, ia juga tidak mengerti kenapa ia begitu penasaran dengan rumah tersebut. 


Pintupun terbuka perlahan, disertai munculnya sesosok nenek yang tampak sangat sedih.


Nenek berkata, "Ada yang bisa saya bantu, Nak?"


Si anak berkata (dengan mata yang berkilau dan senyuman yang menerangi dunia), "Saya minta maaf jika mengganggu. Akan tetapi, saya ingin menyampaikan bahwa Allah sangat mencintai dan memperhatikan Nyonya.

Kemudian saya ingin menghadiahkan buku ini kepada Nyonya. Didalamnya, dijelaskan tentang Allah Ta'ala, kewajiban seorang hamba, dan beberapa cara agar dapat memperoleh keridhaannya."


Satu pekan berlalu, seperti biasa sang imam memberikan ceramah di masjid. Seusai ceramah, ia mempersilahkan jama'ah untuk berkonsultasi.


Terdengar sayup-sayup, dari shaf perempuan, seorang perempuan tua berkata, "Tidak ada seorangpun yang mengenal saya disini, dan belum ada yang mengunjungiku sebelumnya."

"Satu pekan yang lalu, saya bukanlah seorang muslim, bahkan tidak pernah terbetik dalam pikiranku hal tersebut sedikitpun. Suamiku telah wafat, dan dia meninggalkanku sebatang kara di bumi ini."


Dan iapun memulai ceritanya bertemu anak itu, 


"Ketika itu cuaca sangat dingin disertai hujan lebat, aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku....... Kesedihanku sangat mendalam, dan tidak ada seorangpun yang peduli padaku. Maka tidak ada alasan bagiku untuk hidup. Akupun naik ke atas kursi, dan mengalungkan leherku dengan seutas tali yang sudah kutambatkan sebelumnya. Ketika hendak melompat, terdengar olehku suara bel. Aku terdiam sejenak dan berpikir, 'Paling sebentar lagi, juga pergi.'


Namun......... suara bel dan ketukan pintu semakin kuat. Aku berkata dalam hati,  'Siapa gerangan yang sudi mengunjungiku? Tidak akan ada yang mengetuk pintu rumahku.'


"Kulepaskan tali yang sudah siap membantuku mengakhiri nyawaku, dan bergegas ke pintu. ketika pintu kubuka, aku melihat sesosok anak kecil dengan pandangan dan senyuman yang belum pernah kulihat sebelumnya."


Aku tidak mampu menggambarkan sosoknya kepada kalian. 


Perkataan lembutnya telah mengetuk hatiku yang mati hingga bangkit kembali.


Ia berkata, 'Nyonya, saya datang untuk menyampaikan bahwa : Allah Ta'ala sangat menyayangi dan memperhatikan nyonya,' lalu dia memberikan buku ini kepadaku.


"De Weg Naar De Hemel"

 (Jalan Menuju Surga)


Anak kecil itu datang kepadaku secara tiba-tiba, dan menghilang dibalik guyuran hujan.


"Hari itu juga secara tiba-tiba setelah menutup pintu, aku langsung membaca buku dari anak kecilku itu sampai selesai."


"Seketika, kusingkirkan tali dan kursi yang telah menungguku, karena aku tidak akan membutuhkannya lagi."


"Sekarang, lihatlah aku. diriku sangat bahagia, karena aku telah mengenal Tuhan-ku yang sesungguhnya."


"Akupun sengaja mendatangi kalian berdasarkan alamat yang tertera di buku tersebut untuk berterima kasih kepada kalian yang telah mengirimkan mutiara kecilku pada waktu yang tepat, hingga aku terbebas dari kekalnya api Neraka."


Air mata semua orang mengalir tanpa terbendung di masjid bergemuruh dengan  pekikan takbir, 

"Allahu Akbar."


Sang imam (ayah dari anak itu) beranjak menuju tempat dimana mutiara kecil itu duduk, dan memeluknya erat, di hadapan para jama'ah.


Sungguh mengharukan. Mungkin tidak ada seorang ayahpun yang tidak bangga terhadap anaknya seperti yang dirasakan imam tersebut.


Judul asli :


 ู‚ุตุฉ ุฑุงุฆุนุฉ ุฌุฏุง ูˆู…ุนุจุฑุฉ ูˆู…ุคุซุฑุฉ  


"DE WEG NAAR DE HEMEL"


Penerjemah:


Shiddiq Al-Banjow


jazakullahu khairan wa waffaqahu


Barakallahu fiikum ____๐Ÿƒ๐ŸŒน

~~~~⭕️

*๐ŸƒBerbagi_Kebaikan๐Ÿƒ*

Senin, 01 Mei 2023

GARAM DAN TELAGA* 


Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.

“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.


Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.


“Segar.”, sahut tamunya.

“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi.

“Tidak”, jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.


“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”


Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”


Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.


**Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.



๐ŸŒธ☕~~~๐Ÿ–‹️

Senin, 07 November 2022

Mengenal Keluarga Ali Imran, Namanya Abadi di Al Quran ok!!

  Admin IslamKita

Keluarga Imran (Ali imran) adalah keluarga mulia yang namanya diabadikan di dalam kitab suci Al Quran. Allah memilih keluarga ini dibanding keluarga lain di dunia karena bisa dijadikan pelajaran untuk membina keluarga yang selalu taat kepada Allah. Imran sendiri bukanlah nabi atau rasul, namun keluarganya bisa sejajar dan memiliki kedudukan yang terhormat di dunia dan akhirat. Meskipun bukan nabi, namun keluarga ini bisa jadi teladan yang baik.

Anggota Keluarga Imran (Ali Imran)

Anggota Keluarga Imran (Ali Imran)

Jumlah anggota keluarga Imran tidaklah banyak. Namun walaupun sedikit namun keluarga ini penuh dengan berkah dan memiliki kedudukan yang agung di sisi Allah. Allah memilih keluarga ini dibanding keluarga yang lain untuk menunjukan betapa agung posisi mereka:

ุฅِู†َّ ุงู„ู„ّู‡َ ุงุตْุทَูَู‰ ุขุฏَู…َ ูˆَู†ُูˆุญًุง ูˆَุขู„َ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠู…َ ูˆَุขู„َ ุนِู…ْุฑَุงู†َ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ ุฐُุฑِّูŠَّุฉً ุจَุนْุถُู‡َุง ู…ِู† ุจَุนْุถٍ ูˆَุงู„ู„ّู‡ُ ุณَู…ِูŠุนٌ ุนَู„ِูŠู…ٌ

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Ali Imran: 33-34)

Keluarga Imran dikepalai oleh Imran bin Matsan bin Al-Azar bin Al-Yud yang kemudian pada akhirnya bernasab ke Sulaiman bin Daud ‘alaihissalam. Istri Imran bernama Hannah binti Faquda. Hannah adalah wanita solehah yang rajin beribadah. Saking salehnya, istri Imran pernah bernazar bahwa anak yang dikandungnya akan dinazarkan untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah secara penuh di Baitul Maqdis. Hal ini diceritakan pada ayat Al Quran.

ุฅِุฐْ ู‚َุงู„َุชِ ุงู…ْุฑَุฃَุชُ ุนِู…ْุฑَุงู†َ ุฑَุจِّ ุฅِู†ِّูŠ ู†َุฐَุฑْุชُ ู„َูƒَ ู…َุง ูِูŠ ุจَุทْู†ِูŠ ู…ُุญَุฑَّุฑًุง ูَุชَู‚َุจَّู„ْ ู…ِู†ِّูŠ ุฅِู†َّูƒَ ุฃَู†ْุชَ ุงู„ุณَّู…ِูŠุนُ ุงู„ْุนَู„ِูŠู…ُ

(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Ali Imran: 35)

Keistimewaan Keluarga Imran (Ali Imran)

Keluarga Imran atau Ali Imran sangat istimewa di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Walaupun banyak keluarga Nabi atau rasul, namun ternyata ada satu keluarga yang dipilih Allah untuk dijadikan bahan pembelajaran umat manusia. Keistimewaan keluarga Imran terlihat dari beberapa hal berikut, yaitu:

  1. Keluarga Imran adalah satu-satunya nama keluarga yang dipakai di dalam Al Quran. Tidak ada surat lain yang menggunakan nama keluarga, kecuali Ali Imran
  2. Walaupun Imran bukan nabi, namun ia dan keluarganya dianggap sejajar dengan nabi dan keluarga nabi.

ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ุงุตْุทَูَู‰ٰ ุขุฏَู…َ ูˆَู†ُูˆุญًุง ูˆَุขู„َ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠู…َ ูˆَุขู„َ ุนِู…ْุฑَุงู†َ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing). (QS. Ali Imran: 33)

  1. Keluarga ini dianggap (dibandingkan) lebih mulia dibanding dua keluarga nabi. Hal ini bisa dilihat dari ayat Al Quran surat At Tahrim:

ูˆَู…َุฑْูŠَู…َ ุงุจْู†َุชَ ุนِู…ْุฑَุงู†َ ุงู„َّุชِูŠ ุฃَุญْุตَู†َุชْ ูَุฑْุฌَู‡َุง ูَู†َูَุฎْู†َุง ูِูŠู‡ِ ู…ِู†ْ ุฑُูˆุญِู†َุง ูˆَุตَุฏَّู‚َุชْ ุจِูƒَู„ِู…َุงุชِ ุฑَุจِّู‡َุง ูˆَูƒُุชُุจِู‡ِ ูˆَูƒَุงู†َุชْ ู…ِู†َ ุงู„ْู‚َุงู†ِุชِูŠู†َ

Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat. (QS. At-Tahrim: 12)

Dua ayat sebelum ayat ini, menceritakan tentang istri dua nabi yang kafir yaitu istri nabi Nuh dan istri nabi Luth. Selanjutnya, di ayat 11 surat At Tahrim menceritakan tentang istri Fir’aun yang beriman namun memiliki suami yang kafir. Lalu di akhir surat At Tahrim, Allah memuji Maryam yang kelak akan melahirkan seorang nabi yaitu, nabi Isa alaihis salam.

Teladan untuk Membentuk Keluarga Saleh

Dari keluarga Imran, tentunya kita bisa mendapat banyak pelajaran. Memang tidak pernah salah Allah menjadikan keluarga ini sebagai keluarga terbaik di dunia. Karena mulai dari ayah, ibu, anak, hingga cucunya bisa menjadi teladan yang baik bagi umat manusia untuk membentuk keluarga yang saleh secara seutuhnya.

Beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari keluarga Imran adalah:
  1. Bimbinglah anak sebaik mungkin supaya tidak keluar jalur agama Allah yang lurus. Jangan pernah beralasan tidak bisa atau gagal mendidik anak, karena nabi Nuh alaihis salam pernah ditegur langsung oleh Allah:

ู‚َุงู„َ ูŠَุง ู†ُูˆุญُ ุฅِู†َّู‡ُ ู„َูŠْุณَ ู…ِู†ْ ุฃَู‡ْู„ِูƒَ ۖ ุฅِู†َّู‡ُ ุนَู…َู„ٌ ุบَูŠْุฑُ ุตَุงู„ِุญٍ ۖ ูَู„َุง ุชَุณْุฃَู„ْู†ِ ู…َุง ู„َูŠْุณَ ู„َูƒَ ุจِู‡ِ ุนِู„ْู…ٌ ۖ ุฅِู†ِّูŠ ุฃَุนِุธُูƒَ ุฃَู†ْ ุชَูƒُูˆู†َ ู…ِู†َ ุงู„ْุฌَุงู‡ِู„ِูŠู†َ

Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya ia adalah perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS. Hud: 46)

Dari sini, kita bisa belajar untuk tidak memihak kepada anak ketika mereka salah. Ada baiknya kita langsung menegur dan bertindak sewajarnya ketika anak mulai membangkang. Teguran Allah kepada nabi Nuh bisa dijadikan pelajaran bahwa jangan salahi diri sendiri dan memihak anak ketika mereka berbuat salah.

  1. Jangan beranggapan bahwa keluarga kita tidak bisa sama mulianya dengan keluarga para nabi. Ini dibuktikan oleh keluarga Imran yang merupakan manusia biasa tapi kedudukan keluarganya bisa sejajar dengan keluarga nabi di mata Allah. Seringkali anggapan kita bukan keluarga nabi dijadikan alasan ketika tidak bisa mendidik anak. Padahal keluarga Imran saja bisa dan bahkan lebih baik dari keluarga nabi.
  2. Pentingnya Mendidik Anak, bahkan saat mereka belum lahir. Bagi kamu yang sedang hamil atau berencana memiliki anak, dianjurkan pelajari surat Ali Imran karena di sana kita bisa pelajari bagaimana cara mendidik anak yang baik dan bersikap dalam rumah tangga. Istri juga sebagai ibu memiliki peranan sentral dalam mendidik anak-anak. Jika ibu lengah, pendidikan anak bisa kacau dan akidah anak-anak bisa dengan mudahnya rusak.

ุฅِุฐْ ู‚َุงู„َุชِ ุงู…ْุฑَุฃَุชُ ุนِู…ْุฑَุงู†َ ุฑَุจِّ ุฅِู†ِّูŠ ู†َุฐَุฑْุชُ ู„َูƒَ ู…َุง ูِูŠ ุจَุทْู†ِูŠ ู…ُุญَุฑَّุฑًุง ูَุชَู‚َุจَّู„ْ ู…ِู†ِّูŠ ุฅِู†َّูƒَ ุฃَู†ْุชَ ุงู„ุณَّู…ِูŠุนُ ุงู„ْุนَู„ِูŠู…ُ

(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Ali Imran: 35)

Dari ayat di atas, bisa dipelajari bahwa ada pentingnya menyematkan harapan mulia pada anak sejak mereka masih di dalam kandungan. Ayat di atas membuktikan bahwa pendidikan anak harus dimulai bahkan sejak mereka masih di kandungan. Pelajaran baik yang diberikan adalah pastinya seputar tentang agama karena hal inilah yang akan membentuk pribadi anak di masa depan.


sumber: https://islamkita.co/keluarga-ali-imran/#:~:text=Keluarga%20Imran%20(Ali%20imran)%20adalah,yang%20selalu%20taat%20kepada%20Allah.

Rabu, 02 November 2022

๐Š๐ˆ๐’๐€๐‡ ๐’๐„๐Ž๐‘๐€๐๐† ๐๐„๐๐‚๐”๐‘๐ˆ ๐ƒ๐ˆ ๐™๐€๐Œ๐€๐ ๐๐€๐๐ˆ ๐Œ๐”๐’๐€ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู….

 ╔═══≪✪⋆͙̈﷽⋆͙̈✪≫~~~๐Ÿ–‹️

*_☕Kisah Cerita & Motivasi_*

*_Kehidupan☕_* ༆                

╚═══≪ ✪⋆͙̈❈ ⋆͙̈✪≫

_______________________๐Ÿ’ž๐Ÿ“š☕

_๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡จMenuju Indonesia Bertauhid☝๐Ÿป_

https://chat.whatsapp.com/L3XL9d8tgNZ6cN4XTvezUs



*_Sahabat Fillah~~~_



Dizaman Nabi Musa ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู… ada seorang yang kerjanya mencuri, setelah 40 tahun mencuri, ia pun ingin bertaubat.


Suatu hari ia melihat Nabi Musa ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู… sedang berjalan dan terlintas dihatinya untuk mengikuti Nabi Musa ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู….


Katanya, "Kalau aku dapat berjalan dibelakang Nabi Musa, mudah-mudahan aku termasuk orang yang beruntung."

Tetapi dia batalkan niatnya itu dan berkata,

"Aku ini pencuri, tidak layak bagiku berjalan bersama seorang Nabi Mulia."


Kemudian ia melihat seorang abid (ahli ibadah) yang dikenal sebagai orang yang istiqamah beribadah selama 40 tahun sedang berlari kecil mengejar Nabi Musa ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู….


Sipencuri itu berkata didalam hatinya,

"Aku berjalan dibelakang siabid ini saja, semoga aku termasuk orang yang memperoleh kebaikan."


Melihat sipencuri mengikutinya, siabid terkejut dan berkata :

"Celakalah aku. Mengapa sipencuri itu mengikutiku? mungkin dia ingin berbuat jahat."


Lalu siabid pun segera mempercepat larinya agar sipencuri tidak dapat mengikutinya.

Melihat siabid yang semakin cepat berlari, sipencuri terus berusaha mengejarnya.


Akhirnya sipencuri berhasil sampai disisi siabid.

Siabid merasa pencuri itu terlalu hina untuk berjalan dibelakang Nabi Musa ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู… lalu ia pun mengusirnya.


Nabi Musa ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู… yang mendengar kekecohan dibelakangnya langsung berpaling dan bersabda kepada mereka berdua,


"Aku baru saja mendapatkan wahyu dari Allah ุณุจุญุง ู†ู‡ ูˆ ุชุนุงู„ู‰ untuk disampaikan kepada kalian berdua bahwa segala amalan baik dan buruk kalian telah dihapuskan oleh Allah ุณุจุญุง ู†ู‡ ูˆ ุชุนุงู„ู‰."


Maka terkejutlah siabid dan sipencuri setelah Nabi Musa ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู… menjelaskannya.


Berbahagialah sipencuri karena dosanya selama 40 tahun mencuri telah diampuni oleh Allah, sementara siabid berduka karena ibadahnya selama 40 tahun tidak diterima oleh Allah ุณุจุญุง ู†ู‡ ูˆ ุชุนุงู„ู‰.


Rupanya sipencuri itu miskin dan tanggungannya banyak, orang-orang kaya enggan membantunya hingga memaksa dia mencuri untuk bertahan hidup, setiap kali dia mencuri, dia merasa sangat berdosa, jiwanya menderita dan selalu mengharap ampunan dan kasih sayang Tuhannya.


Sedangkan siabid, yakin ibadahnya mampu menyelamatkannya.

Selama 40 tahun beribadah, siabid merasa dirinya soleh dan mulia, hingga enggan berjalan bersama orang yang hina dan berdosa, dan hanya layak berjalan bersama para Nabi.


Janganlah kita tertipu dengan pandangan fisik dzohir, karena batin adalah tempat pandangan Allah ุณุจุญุง ู†ู‡ ูˆ ุชุนุงู„ู‰.


๐ŸŒธ☕~~~๐Ÿ–‹️

Senin, 10 Oktober 2022

Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat 

Kamis, 8 September 2016 | 23:30 WIB Dalam kitab An-Nawรขdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qalyubi diceritakan, 

1) suatu kali Abu Yusuf Ya’qub bin Yusuf bercerita tentang salah seorang sahabatnya yang unik. Ia orang yang wara’ dan takwa meski orang-orang mengenal karibnya itu sebagai orang fasik dan pendosa. Sudah dua puluh tahun Abu Yusuf melakukan tawaf di sekitar Ka’bah bersamanya. Tak seperti Abu Yusuf yang berpuasa terus menerus (dawรขm), 

2) sahabatnya ini sehari puasa sehari berbuka. Memasuki 10 hari bulan Dzulhijjah, sahabat Abu Yusuf ini menunaikan puasa secara sempurna kendati ia berada di padang sahara yang tandus. 

3) Bersama Abu Yusuf, ia masuk kota Thurthus dan menetap di sana untuk beberapa lama. Di tempat gersang inilah, persisnya di sebuah kawasan reruntuhan bangunan, ia wafat tanpa seorang pun yang tahu kecuali Abu Yusuf. 

4) Abu Yusuf pun keluar mencari kain kafan dan alangkah kagetnya tatkala dirinya kembali menyaksikan kerumunan orang berkunjung, mengafani, sekaligus menyalati jenazah sahabatnya tersebut di tempat yang semula tak berpenghuni. Karena begitu ramainya, Abu Yusuf sampai tak bisa masuk lokasi reruntuhan bangunan itu. 

5) Para pelayat menyebut-nyebut almarhum sebagai orang yang zuhud dan termasuk dari kekasih Allah (waliyyullah). “Subhanallah, siapa yang mengumumkan kematiannya hingga orang-orang berbondong-bondong bertakziah, menyalati, dan menangisi kepergiannya?” Kata Abu Yusuf. 

Setelah melalui perjuangan keras, Abu Yusuf akhirnya berhasil menghampiri jenazah sahabatnya tersebut dan terperanjat saat melihat kain kafan yang tak biasa. Pada kain itu tercantum tulisan berwarna hijau: ู‡ุฐุง ุฌุฒุงุก ู…ู† ุขุซุฑ ุฑุถุง ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ุฑุถุง ู†ูุณู‡ ูˆุฃุญุจ ู„ู‚ุงุกู†ุง ูุฃุญุจุจู†ุง ู„ู‚ุงุกู‡ “Inilah balasan orang yang mengutamakan ridha Allah ketimbang ridha dirinya sendiri; orang yang rindu menemui-Ku dan karenanya Aku pun rindu menemuinya.” 

6) Selepas melaksanakan shalat jenazah dan mengebumikannya, rasa kantuk berat menghampiri Abu Yusuf hingga akhirnya tertidur. Di dunia mimpi inilah Abu Yusuf menyaksikan sahabatnya yang ahli puasa tersebut menunggang kuda hijau serta berpakaian hijau dengan sebuah bendera di tangannya.

7) Di belakangnya ada seorang pemuda tampan berbau harum. Di belakang pemuda ini, ada dua orang tua diikuti di belangnya lagi satu orang tua dan satu pemuda. “Siapa mereka?” Tanya Abu Yusuf. “Pemuda tampan itu adalah Nabi kita Muhammad shallallรขhu ‘alaihi wasallam. Dua orang tua itu adalah Abu Bakar dan Umar, sementara orang tua dan pemuda itu adalah Utsman dan Ali. 

8) Dan akulah pemegang bendera di depan mereka,” jelas almarhum sahabatnya dalam mimpi itu. “Hendak ke manakah mereka?” “Mereka ingin meziarahiku.” Abu Yusuf pun kagum, “Bagaimana kau bisa mendapatkan kemuliaan semacam ini?” 

9) “Sebab aku memprioritaskan ridha Allah dibanding ridha diriku sendiri dan aku berpuasa pada 10 hari Dzulhijjah,” jawab sahabatnya. Abu Yusuf pun bangun dari tidur, lalu sejak itu ia tak pernah meninggalkan amalan puasa itu hingga akhir hayat.

10) Anjuran memperbanyak amal saleh pada 10 hari pertama Dzulhijjah termaktub dalam beberapa hadits. Misalnya hadits riwayat Ibnu ‘Abbas yang ada di dalam Sunan At-Tirmidzi yang mengatakan, “Tiada ada hari lain yang disukai Allah SWT untuk beribadah seperti sepuluh hari ini (Dzulhijjah).” Meskipun disebutkan kata “sepuluh hari”, puasa jika dimulai 1 Dzulhijjah cukup dijalankan sembilan hari karena tanggal 10 Dzulhijjah (juga hari tasyriq: 11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah hari terlarang untuk berpuasa. Sebagaimana pendapat An-Nawawi sebagaimana dikutip Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi bahwa yang dimaksud dengan ayyamul ‘asyr (10 hari) adalah 9 hari sejak tanggal 1 Dzulhijjah. Wallahu a’lam. 


Sumber: https://islam.nu.or.id/hikmah/kisah-ahli-puasa-dzulhijjah-diziarahi-rasulullah-dan-para-sahabat-FRLvO

MENJAGA AMANAH

Nasihat Islami: Terdapat sebuah kisah menarik tentang amanat yang terjadi dari dua sahabat Nabi yang disebutkan : ุฃู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุน...